Tampilkan postingan dengan label Kambing Hitam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kambing Hitam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2015

Kebakaran Hutan di Sumatera dan Kalimantan Telah Menghasilkan Kambing Hitam

bencana asap di sumatra dan kalimantan
Ilham Aqiqah kali ini menemukan berita kambing hitam yang menarik untuk dibahas. Sebenarnya agak kurang nyambung sih, ada web jasa aqiqah kok membahasnya tentang dunia politik.Meskipun tidak nyambung, akhirnya bisa dipaksa nyambung berkat adanya kambing hitam. Saya yang biasa jualan kambing-kambing termasuk kambing hitam ikut tergugah untuk mengunggah berita tentang politk, karena saat ini dunia politik sedang banyak memproduksi kambing hitam. Perlu dicatat bahwa kambing hitam di sini bukan makna yang sebenarnya lho, namun hanya kiasan saja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kambing hitam artinya orang yg dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan; Kalau kata mengambinghitamkan berarti menjadikan kambing hitam; mempersalahkan; menuduh bersalah.

Oke, saya kira cukup pembahasan mengenai kambing hitam. Kalau terlalu panjang lebar nanti saya ikutan dijadikan kambing hitam deh. Sekarang mari kita simak berita kambing hitam berikut ini ;

JAKARTA – Bencana asap yang tak kunjung mereda akibat kebakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan membuat gerah Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) karena telah dijadikan kambing hitam dalam bencana itu. (Dijadikan kambing hitam sakitnya tuh di sini. he..he)

Kata Direktur Eksekutif APHI Purwadi Soeprihanto bahwa kebakaran di area konsesi sulit dihindari karena adanya perambah hutan yang ingin memanfaatkan lahan untuk pertanian atau perkebunan.

“Penyebab lainnya adalah loncatan api dari luar konsesi,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Selasa (22/9/2015).

Purwadi menilai usaha pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak akan efektif jika hanya pengusaha hutan yang disalahkan.

Apalagi, lanjut dia, berdasarkan analisis citra satelit seperti yang dilakukan oleh Global Forest Watch justru memperlihatkan kebakaran terdeteksi di luar area konsesi hingga kawasan taman nasional.

“Taman nasional menjadi tanggung jawab pemerintah. Tentu tidak tepat jika kemudian tanggung jawab bencana kabut asap ini hanya ditimpakan kepada pelaku usaha kehutanan,” ucapnya.

Purwadi mengklaim anggota APHI telah menyiapkan langkah-langkah pencegahan kebakaran seperti kebijakan pengolahan lahan tanpa membakar.

Anggota APHI juga melengkapi lahan konsesi mereka dengan peralatan dan brigade pemadam kebakaran.

“Tidak mungkin kami membakar karena akan rugi akibat kehilangan aset tanaman,” katanya.

Dia juga mengklaim anggota APHI telah membuat program pemberdayaan masyakarat untuk mengubah perilaku pembakaran.

Pasalnya, UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) masih membolehkan petani untuk membuka lahan dengan cara dibakar.

“Karena itu UU itu perlu segera direvisi,” ujarnya.

Sumber : bisnis.com

Sabtu, 05 September 2015

Amir Syamsudin tak Terima SBY Dijadikan Kambing Hitam oleh Pemerintah Jokowi

demokrat
Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin tak terima dengan sikap pemerintahan Joko Widodo yang menyalahkan rezim pemerintahan SBY terkait pasal penghinaan terhadap kepala negara. Menurutnya, pasal ini sudah ada sejak zaman dahulu kala jauh sebelum pemerintahan SBY.

Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM Yassona Laoly mengungkapkan, pasal penghinaan presiden telah diusulkan sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Seolah SBY dijadikan kambing hitam oleh pemerintah Jokowi.

"Tidak perlu lempar-melempar. Dari dulu kalau tidak mau diajukan bisa saja. Sejarahnya ada," ujar Amir ketika dihubungi wartawan, Kamis (6/8/2015).

Mantan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) di era Susilo Bambang Yudhoyono ini mempersilakan jika pemerintahan Joko Widodo ingin merevisi pasal tersebut, namun ia melihat tidak ada bedanya pasal yang disodorkan dengan yang dibatalkan MK.

"Jangan ada pro kontra dianggap itu warisan pemerintahan SBY. Saya tidak pernah mengatakan itu warisan pemerintah sebelum SBY," ucapnya.

Ia menyarankan semestinya Pemerintahan Joko Widodo mengkaji dulu baik-baik keinginan menyodorkan pasal tersebut, sebelum DPR membahasnya usai masa reses.

"Ini keliatannya kalau sudah timbul kehebohan banyak orang mencoba melepaskan. Kaji dulu baik baik. Tak perlu mencari popularitas," tandasnya.

Sumber : teropongsenayan.com

Ricky Elson : Saya Sudah Dapat Kambing Hitam

pembuat mobil listrik
Berikut ini saya kutipkan status dari Ricky Elson dari akun facebooknya setelah mendengar fatwa dari BPPT terkait dengan mobil listrik yang dibuatnya.

Maafkan saya, Bikin kegaduhan
impian kosong belaka dengan Mobil listrik,
Ya sudahlah,
jangan mencari kambing Hitam lagi,
saya udah dapet kok,
yang keren,

Klo Bapak kepala BPPT yg berfatwa,
Tentu sudah dengan pertimbangan yg sangat matang.
Gimana tidak,saya percaya itu adalah hasil kajian mendalam
dari ahli ahli terunggul di Indonesia,
yang berada di Institusi ini,

Ternyata
saya hanya bermimpi selama ini
melihat industri Mobil Listrik nya Tesla
Melihat industri mobil listrik nya Nissan (leaf), Mitsubishi (iMiev)
Melihat industri mobil Hybrid nya Toyota (Prius, Aqua) , Honda (Insight)
itu hanya mimpi,
Karna ini pasti Gak Komersil.

karna di Negara maju sekalipun , Mobil listrik "Belum Komersial",
Amerika, Jepang dan Negara2 Eropa itu Bukan Negara maju,
karna mereka mengkomersialkan Mobil listrik,
Atau saya selama ini hanya melihat Fatamorgana,

kalau begitu, untuk sementara saya
disini ajalah, pelihara kambing aja dulu.
Menyiapkan Kambing Hitam.

Terima kasih Fatwa nya,
Setelah dari Kemenristek,
Sekarang dari BPPT,
Besok dari mana lagi saya dapat Fatwa ya,
Dan Media, pintar sekali bikin saya jadi pemicu keGaduhan.

Aah, memang benar,
lebih baik saya menyiapkan Kambing aja.

5/9/2015, Ciheras
Cerita Ciheras dan Kambing Hitam


###############################
Sebelumnya pihak BPPT menanggapi hasil karya Ricky Elson yang kabarnya sedang diincar Malaysia setelah ditolak pemerintah RI.
http://m.merdeka.com/otomotif/mobil-listrik-selo-diincar-malaysia-ini-tanggapan-bppt.html

dikomentari Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto. Menurutnya, hal itu tak jadi masalah.

"Ya, gak papa. Lagian Malaysia juga gak jago-jago amat bikin mobil kan? Gak papa. Kalau pun untuk dijual, siapa yang mau beli? Berapa banyak yang mau beli?" kata Unggul kepada Merdeka.com

http://m.merdeka.com/otomotif/industri-mobil-listrik-di-indonesia-belum-waktunya-kenapa.html

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, mengatakan, untuk menjadikan mobil listrik sebagai industri masih terlalu jauh. Pasalnya, ada banyak hal yang perlu dikaji terlebih dahulu oleh pemerintah.

"Jadi begini, mobil listrik kenapa belum waktunya jadikan industri, hal ini karena di negara maju sekalipun mobil listrik belum komersial. Kalau dibikin industri, saya rasa gak yakin bisa laku. Masalahnya kan juga kesulitan pada baterainya dan stasiun pengisian listriknya. Ini yang menjadi kendalanya. Tetapi, kalau riset saya setuju," ujarnya saat berbincang santai dengan Merdeka.com di kantornya, Jakarta, Kamis (3/9).

Dirinya pun menilai daripada membuat mobil listrik yang teknologinya belum mapan, alangkah baiknya pemerintah mengembangkan transportasi massal berbasis energi listrik.

"Kalau mobil listrik itu ngecharge berapa lama coba? Empat jam loh. Ada yang delapan jam. Kabelnya juga gede. Stasiun pengisian listrik juga perlu dipikirkan. Kenapa kita gak berpikir bikin mass transportation. Itu kan bisa," katanya.
Tampilkan postingan dengan label Kambing Hitam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kambing Hitam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2015

Kebakaran Hutan di Sumatera dan Kalimantan Telah Menghasilkan Kambing Hitam

bencana asap di sumatra dan kalimantan
Ilham Aqiqah kali ini menemukan berita kambing hitam yang menarik untuk dibahas. Sebenarnya agak kurang nyambung sih, ada web jasa aqiqah kok membahasnya tentang dunia politik.Meskipun tidak nyambung, akhirnya bisa dipaksa nyambung berkat adanya kambing hitam. Saya yang biasa jualan kambing-kambing termasuk kambing hitam ikut tergugah untuk mengunggah berita tentang politk, karena saat ini dunia politik sedang banyak memproduksi kambing hitam. Perlu dicatat bahwa kambing hitam di sini bukan makna yang sebenarnya lho, namun hanya kiasan saja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kambing hitam artinya orang yg dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan; Kalau kata mengambinghitamkan berarti menjadikan kambing hitam; mempersalahkan; menuduh bersalah.

Oke, saya kira cukup pembahasan mengenai kambing hitam. Kalau terlalu panjang lebar nanti saya ikutan dijadikan kambing hitam deh. Sekarang mari kita simak berita kambing hitam berikut ini ;

JAKARTA – Bencana asap yang tak kunjung mereda akibat kebakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan membuat gerah Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) karena telah dijadikan kambing hitam dalam bencana itu. (Dijadikan kambing hitam sakitnya tuh di sini. he..he)

Kata Direktur Eksekutif APHI Purwadi Soeprihanto bahwa kebakaran di area konsesi sulit dihindari karena adanya perambah hutan yang ingin memanfaatkan lahan untuk pertanian atau perkebunan.

“Penyebab lainnya adalah loncatan api dari luar konsesi,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Selasa (22/9/2015).

Purwadi menilai usaha pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak akan efektif jika hanya pengusaha hutan yang disalahkan.

Apalagi, lanjut dia, berdasarkan analisis citra satelit seperti yang dilakukan oleh Global Forest Watch justru memperlihatkan kebakaran terdeteksi di luar area konsesi hingga kawasan taman nasional.

“Taman nasional menjadi tanggung jawab pemerintah. Tentu tidak tepat jika kemudian tanggung jawab bencana kabut asap ini hanya ditimpakan kepada pelaku usaha kehutanan,” ucapnya.

Purwadi mengklaim anggota APHI telah menyiapkan langkah-langkah pencegahan kebakaran seperti kebijakan pengolahan lahan tanpa membakar.

Anggota APHI juga melengkapi lahan konsesi mereka dengan peralatan dan brigade pemadam kebakaran.

“Tidak mungkin kami membakar karena akan rugi akibat kehilangan aset tanaman,” katanya.

Dia juga mengklaim anggota APHI telah membuat program pemberdayaan masyakarat untuk mengubah perilaku pembakaran.

Pasalnya, UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) masih membolehkan petani untuk membuka lahan dengan cara dibakar.

“Karena itu UU itu perlu segera direvisi,” ujarnya.

Sumber : bisnis.com

Sabtu, 05 September 2015

Amir Syamsudin tak Terima SBY Dijadikan Kambing Hitam oleh Pemerintah Jokowi

demokrat
Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin tak terima dengan sikap pemerintahan Joko Widodo yang menyalahkan rezim pemerintahan SBY terkait pasal penghinaan terhadap kepala negara. Menurutnya, pasal ini sudah ada sejak zaman dahulu kala jauh sebelum pemerintahan SBY.

Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM Yassona Laoly mengungkapkan, pasal penghinaan presiden telah diusulkan sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Seolah SBY dijadikan kambing hitam oleh pemerintah Jokowi.

"Tidak perlu lempar-melempar. Dari dulu kalau tidak mau diajukan bisa saja. Sejarahnya ada," ujar Amir ketika dihubungi wartawan, Kamis (6/8/2015).

Mantan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) di era Susilo Bambang Yudhoyono ini mempersilakan jika pemerintahan Joko Widodo ingin merevisi pasal tersebut, namun ia melihat tidak ada bedanya pasal yang disodorkan dengan yang dibatalkan MK.

"Jangan ada pro kontra dianggap itu warisan pemerintahan SBY. Saya tidak pernah mengatakan itu warisan pemerintah sebelum SBY," ucapnya.

Ia menyarankan semestinya Pemerintahan Joko Widodo mengkaji dulu baik-baik keinginan menyodorkan pasal tersebut, sebelum DPR membahasnya usai masa reses.

"Ini keliatannya kalau sudah timbul kehebohan banyak orang mencoba melepaskan. Kaji dulu baik baik. Tak perlu mencari popularitas," tandasnya.

Sumber : teropongsenayan.com

Ricky Elson : Saya Sudah Dapat Kambing Hitam

pembuat mobil listrik
Berikut ini saya kutipkan status dari Ricky Elson dari akun facebooknya setelah mendengar fatwa dari BPPT terkait dengan mobil listrik yang dibuatnya.

Maafkan saya, Bikin kegaduhan
impian kosong belaka dengan Mobil listrik,
Ya sudahlah,
jangan mencari kambing Hitam lagi,
saya udah dapet kok,
yang keren,

Klo Bapak kepala BPPT yg berfatwa,
Tentu sudah dengan pertimbangan yg sangat matang.
Gimana tidak,saya percaya itu adalah hasil kajian mendalam
dari ahli ahli terunggul di Indonesia,
yang berada di Institusi ini,

Ternyata
saya hanya bermimpi selama ini
melihat industri Mobil Listrik nya Tesla
Melihat industri mobil listrik nya Nissan (leaf), Mitsubishi (iMiev)
Melihat industri mobil Hybrid nya Toyota (Prius, Aqua) , Honda (Insight)
itu hanya mimpi,
Karna ini pasti Gak Komersil.

karna di Negara maju sekalipun , Mobil listrik "Belum Komersial",
Amerika, Jepang dan Negara2 Eropa itu Bukan Negara maju,
karna mereka mengkomersialkan Mobil listrik,
Atau saya selama ini hanya melihat Fatamorgana,

kalau begitu, untuk sementara saya
disini ajalah, pelihara kambing aja dulu.
Menyiapkan Kambing Hitam.

Terima kasih Fatwa nya,
Setelah dari Kemenristek,
Sekarang dari BPPT,
Besok dari mana lagi saya dapat Fatwa ya,
Dan Media, pintar sekali bikin saya jadi pemicu keGaduhan.

Aah, memang benar,
lebih baik saya menyiapkan Kambing aja.

5/9/2015, Ciheras
Cerita Ciheras dan Kambing Hitam


###############################
Sebelumnya pihak BPPT menanggapi hasil karya Ricky Elson yang kabarnya sedang diincar Malaysia setelah ditolak pemerintah RI.
http://m.merdeka.com/otomotif/mobil-listrik-selo-diincar-malaysia-ini-tanggapan-bppt.html

dikomentari Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto. Menurutnya, hal itu tak jadi masalah.

"Ya, gak papa. Lagian Malaysia juga gak jago-jago amat bikin mobil kan? Gak papa. Kalau pun untuk dijual, siapa yang mau beli? Berapa banyak yang mau beli?" kata Unggul kepada Merdeka.com

http://m.merdeka.com/otomotif/industri-mobil-listrik-di-indonesia-belum-waktunya-kenapa.html

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, mengatakan, untuk menjadikan mobil listrik sebagai industri masih terlalu jauh. Pasalnya, ada banyak hal yang perlu dikaji terlebih dahulu oleh pemerintah.

"Jadi begini, mobil listrik kenapa belum waktunya jadikan industri, hal ini karena di negara maju sekalipun mobil listrik belum komersial. Kalau dibikin industri, saya rasa gak yakin bisa laku. Masalahnya kan juga kesulitan pada baterainya dan stasiun pengisian listriknya. Ini yang menjadi kendalanya. Tetapi, kalau riset saya setuju," ujarnya saat berbincang santai dengan Merdeka.com di kantornya, Jakarta, Kamis (3/9).

Dirinya pun menilai daripada membuat mobil listrik yang teknologinya belum mapan, alangkah baiknya pemerintah mengembangkan transportasi massal berbasis energi listrik.

"Kalau mobil listrik itu ngecharge berapa lama coba? Empat jam loh. Ada yang delapan jam. Kabelnya juga gede. Stasiun pengisian listrik juga perlu dipikirkan. Kenapa kita gak berpikir bikin mass transportation. Itu kan bisa," katanya.